Oleh: Ust. Alwiyan Qosyid Syam’un / Pimpinan Pondok Pesantren Al Khairiyah
Di tengah hiruk-pikuk spiritualitas modern, ketika jagat maya mudah menjadikan siapa pun sebagai “wali dadakan”, satu hal menjadi pertanyaan serius: di mana batas antara karomah yang hakiki dan klaim gaib yang menyesatkan?
Di pesantren-pesantren, kisah para waliyullah diterima sebagai bagian dari tradisi iman. Karomah dipahami sebagai karunia Ilahi—bukan pertunjukan kekuatan gaib, melainkan tanda kebersihan hati dan ketaatan seorang hamba. Islam sendiri menegaskan adanya karomah, sebagaimana kisah Siti Maryam, pemuda Ashabul Kahfi, hingga perjalanan Dzulqarnain dalam Al-Qur’an.
Namun, keyakinan suci itu kini menghadapi erosi. Di ruang publik, muncul sosok-sosok yang tanpa takut mengklaim diri sebagai pengembara dimensi gaib. Ada yang mengaku melihat Malaikat dalam wujud asli, keluar masuk surga dan neraka saat masih hidup, hingga yang paling absurd: menjadi “panitia kiamat”.
Retorika spiritual semacam itu memang memikat sebagian orang—apalagi yang sedang mencari pegangan batin. Tetapi, bagi mereka yang menjaga kejernihan akidah, klaim demikian bukan tanda kesalehan, melainkan alarm penyimpangan. Di titik ini, agama harus kembali pada dasar: iman bukan arena sensasi.
Iman pada Gaib: Ada Aturannya, Ada Batasnya
Islam telah memberi rambu. Ada hal-hal gaib yang wajib diimani: Malaikat, Jin, surga dan neraka, hari kebangkitan, alam kubur, Lauhul Mahfuz, hingga kiamat. Semuanya adalah ranah Allah, bukan panggung bagi manusia untuk mengada-ada.
Allah menegaskan batas itu secara tegas:
“Kunci-kunci perkara gaib hanyalah milik Allah, tidak ada yang mengetahuinya selain Dia…” (QS. Al-An’am: 59)
Maka ketika seorang manusia biasa mengaku menjadi saksi langsung takdir langit—lebih dari para ulama, lebih dari para wali—kita patut curiga. Agama tidak diserahkan kepada kesan pribadi, tetapi dituntun oleh dalil yang jelas.
Akal Sehat adalah Sahabat Iman
Di era ketika konten mistik laris, iman diuji kesadarannya. Karomah sejati tidak dipasarkan, tidak dijadikan konten, apalagi dijadikan legitimasi sosial atau kapital spiritual. Kebenaran tidak butuh dramatisasi.
Islam mendorong umatnya untuk percaya sekaligus berpikir, tunduk sekaligus selektif. Mengimani karomah bukan berarti membuka pintu bagi fantasi gaib tanpa dasar. Keajaiban terbesar bukan pada cerita yang viral, tetapi pada hidayah yang menetapkan hati agar tetap lurus.
Pesan untuk Umat
Karomah adalah rahasia ketulusan. Mereka yang memiliki tidak membicarakan; mereka yang membicarakan biasanya tidak memiliki. Pesantren dan ulama tidak menolak karomah—justru menjaganya dari eksploitasi spiritual. Keimanan yang benar bukan yang paling heboh, melainkan yang paling jujur dan paling menjaga adab terhadap Allah.
Di ruang publik yang gaduh, Pondok Pesantren Al Khairiyah tetap berdiri sebagai rujukan akidah moderat, menjaga umat agar tidak terjebak euforia spiritual palsu. Karena iman bukan pertunjukan—ia cahaya, bukan sorotan kamera.
Karomah itu mulia. Klaim gaib tanpa dasar? Itu jebakan.
Dan umat wajib memilih jalan waras dalam beragama.
Cilegon, 1 November 2025















