Kongres Rakyat Banten Tegaskan Penolakan Proyek PIK 2

filter: 0; fileterIntensity: 0.0; filterMask: 0; captureOrientation: null; brp_mask:0; brp_del_th:null; brp_del_sen:null; delta:null; module: photo;hw-remosaic: false;touch: (0.3013889, 0.57109374);sceneMode: 2;cct_value: 0;AI_Scene: (-1, -1);aec_lux: 0.0;aec_lux_index: 0;HdrStatus: auto;albedo: ;confidence: ;motionLevel: 0;weatherinfo: null;temperature: 41;

 

CILEGON, WILIP.ID- Penolakan terhadap proyek Partai Indah Kapuk (PIK) 2 semakin menguat di Banten. KH. Hafidin, Koordinator Gebrak Banten, mendukung penuh Kongres Rakyat Banten yang akan digelar di Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B), pada 12 Januari 2025 mendatang.

Kongres ini akan dihadiri ratusan perwakilan organisasi masyarakat, tokoh agama, aktivis lingkungan, dan perwakilan warga terdampak. Kongres Rakyat Banten menegaskan sebagai pernyataan keberatan atas proyek raksasa yang dinilai mengancam lingkungan, budaya, dan kesejahteraan masyarakat lokal.

KH. Hafidin menyebut PIK 2 sebagai bentuk eksploitasi besar-besaran yang mengabaikan dampak ekologis dan sosial. “Proyek ini bukan untuk rakyat, tapi untuk kepentingan segelintir elite. Kami tidak akan diam,” tegas Hafidin dalam rapat koordinasi persiapan Kongres Rakyat Banten di Cilegon, Senin 30 Desember 2024.

Ia juga mengkritik pemerintah pusat dan daerah yang dianggap memberikan karpet merah kepada investor tanpa mempertimbangkan aspirasi masyarakat Banten. Dalam kongres tersebut, para peserta sepakat untuk menyusun rekomendasi resmi yang menolak keberlanjutan PIK 2.

Rekomendasi itu akan dikirimkan ke pemerintah, mulai dari tingkat provinsi hingga pusat, sebagai upaya mendorong penghentian proyek yang dianggap melanggar prinsip pembangunan berkelanjutan. “Jika pemerintah tetap tuli, jangan salahkan kami jika gerbang PIK 2 akan kami duduki,” ancam Hafidin.

Proyek PIK 2 tidak hanya menuai kritik dari masyarakat, tetapi juga menarik dukungan sebagian pihak yang menganggapnya sebagai peluang ekonomi. Hal ini menciptakan polarisasi tajam di tengah masyarakat Banten. Hafidin menegaskan bahwa Gebrak Banten tidak anti-investasi, tetapi menolak pembangunan yang merugikan rakyat kecil.

Kongres Rakyat Banten menjadi simbol perlawanan warga terhadap proyek raksasa yang mereka anggap menindas. Jika pemerintah tidak segera merespons aspirasi ini, ancaman demonstrasi besar-besaran di gerbang PIK 2 bisa menjadi kenyataan. Suara perlawanan dari Banten terus menggema, membawa pesan kuat bahwa tanah dan laut mereka bukan untuk dijual.