Oleh: Rahmatulloh / Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Kota Cilegon
Pergantian tahun kerap dirayakan sebagai penanda harapan baru. Namun, di balik kembang api dan hitung mundur, ada pertanyaan yang jarang diajukan secara jujur: apakah kita sungguh menjadi lebih baik, atau hanya bertambah usia?
Tahun Baru 2026 seharusnya menjadi momen muhasabah—bukan sekadar ritual tahunan, melainkan evaluasi mendalam atas cara kita menjalani hidup. Waktu terus bergerak, tetapi tidak semua orang bergerak maju bersamanya. Dalam konteks inilah nasihat Ali bin Abi Thalib menemukan relevansinya kembali: siapa yang hari ini lebih baik dari kemarin adalah orang beruntung; siapa yang stagnan, merugi; dan siapa yang lebih buruk, celaka.
Nasihat itu sederhana, tetapi tajam. Ia menempatkan perubahan sebagai keharusan moral. Pergantian waktu bukan hanya soal bertambahnya angka tahun, melainkan bertambahnya tanggung jawab atas hidup yang dijalani.
Zaman yang Cepat, Manusia yang Lengah
Perubahan zaman berjalan semakin cepat. Teknologi berkembang pesat, informasi mengalir tanpa henti, dan standar keberhasilan kerap diukur dari capaian material. Di tengah arus ini, manusia mudah terjebak dalam kelalaian—sibuk mengejar yang tampak, tetapi abai pada yang mendasar.
Teknologi, pada dasarnya, bersifat netral. Ia diciptakan untuk memudahkan hidup manusia. Namun, tanpa kendali nilai dan iman, teknologi justru dapat menjauhkan manusia dari kesadaran diri. Kita terhubung dengan dunia, tetapi terputus dari batin sendiri.
Rasulullah SAW pernah mengingatkan, “Tidak datang suatu zaman kecuali zaman sesudahnya lebih buruk dari zaman sebelumnya” (HR Bukhari). Hadis ini bukan seruan pesimisme, melainkan peringatan agar manusia tidak larut dalam euforia kemajuan, tanpa memperkuat fondasi moral dan spiritual.
Iman sebagai Penjaga Arah
Dalam situasi seperti ini, keimanan berfungsi sebagai kompas. Perubahan iman ke arah yang lebih baik tidak semata ditandai oleh meningkatnya ritual, tetapi oleh perubahan cara berpikir dan bertindak. Iman yang hidup tercermin dalam kejujuran, kepedulian sosial, dan kemampuan menahan diri di tengah godaan.
Keimanan yang kuat memberi daya tahan menghadapi tekanan hidup. Ia menyediakan makna ketika tujuan hidup terasa kabur, serta arah ketika pilihan-pilihan moral menjadi semakin abu-abu. Tanpa iman, kemajuan mudah kehilangan tujuan.
Menutup Tahun, Membuka Kesadaran
Muhasabah bukan pekerjaan instan. Ia adalah proses panjang yang menuntut kesungguhan dan konsistensi. Namun, dari sanalah perbaikan bermula—dari keberanian menilai diri sendiri sebelum menilai orang lain.
Tahun Baru 2026 layak disambut dengan kesadaran bahwa hidup bukan perlombaan mengejar waktu, melainkan upaya memaknai waktu. Bertumbuh bukan hanya secara pribadi, tetapi juga secara spiritual dan sosial.
Jika setiap individu berusaha menjadi lebih baik dari hari ke hari, maka perbaikan tidak lagi menjadi wacana abstrak. Ia menjelma dalam tindakan kecil yang konsisten, berdampak pada lingkungan sekitar.
Tahun boleh berganti. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa kita tidak berjalan di tempat—atau lebih buruk, kehilangan arah.
(Elisa/Red*)















