Ketika Akal dan Ruhani Menilai Kebaikan Secara Berbeda

Oleh : Alwiyan Rakjat Biasa / Pimpinan Pondok Pesantren Al Khairiyah 

“Kebaikan, apa pun motifnya, tetaplah baik secara sosial. Hanya saja, kebaikan secara sosial bisa jadi tidak sejalan dengan kebaikan menurut agama.”

Misalnya, seseorang berbuat baik karena orang lain terlebih dahulu berbuat baik kepadanya. Ini juga termasuk kebaikan, hanya saja kebaikan dalam konteks sosial yang bersifat transaksional. “Sikap gue tergantung sikap elo. Elo baik ke gue, gue juga baik ke elo.”

Kira-kira seperti itu pola pikirnya. Saya menyebutnya dengan istilah logika akal.

Berbeda halnya dengan seseorang yang berbuat baik bukan karena orang lain berlaku baik kepada dirinya, tetapi karena kesadaran bahwa Allah memerintahkan untuk berbuat baik kepada siapa pun, kapan pun, dan di mana pun. Inilah bentuk ketaatan kepada Allah. Dengan demikian, kebaikan bukan sekadar soal sedekah; bahkan tindakan sekeras membunuh pun bisa menjadi kebaikan jika dilakukan atas dasar takwa sesuai perintah Allah. Ini yang saya istilahkan sebagai logika ruhani.

Dalam logika akal, kebaikan sering dipandang sebagai sarana mencapai tujuan tertentu, seperti memperoleh balasan atau pengakuan dari orang lain. Sementara itu, logika ruhani memandang kebaikan sebagai kewajiban yang harus ditunaikan semata-mata karena perintah Allah, tanpa mengharap imbalan dari manusia. Artinya, dalam logika ruhani, nilai kebaikan tidak hanya ditentukan oleh tindakan, tetapi juga oleh niat dan motivasi di baliknya.

Logika ruhani adalah cara berpikir yang berlandaskan kesadaran spiritual dan hubungan dengan Tuhan. Ini mencakup pemahaman mendalam tentang makna serta tujuan hidup, dan menyadari adanya dimensi ilahiah dalam diri manusia. Berbeda dengan logika akal yang fokus pada aspek rasional dan material, logika ruhani mempertimbangkan aspek spiritual serta emosional dalam memahami realitas dan mengambil keputusan.

Dalam logika ruhani, tindakan tidak semata dinilai dari manfaat duniawi, tetapi dari kesesuaiannya dengan nilai-nilai spiritual dan perintah Tuhan. Logika ruhani juga mencakup kesadaran akan kehidupan setelah mati dan tanggung jawab atas amal perbuatan di akhirat.

Dalam Islam, konsep ikhlas sangat penting untuk menilai suatu amalan. Tindakan yang sama dapat memiliki nilai berbeda bergantung pada niat pelakunya. Karena itu, logika ruhani sangat relevan untuk memahami ajaran Islam dan meningkatkan kualitas spiritual. Lebih jauh lagi, pemahaman tentang logika akal dan logika ruhani membantu kita membedakan kebaikan yang bersifat duniawi dan ukhrawi, serta pentingnya niat dalam menentukan nilai suatu tindakan.

 

Cilegon, 2 November 2025