Brigjen Anumerta KH. Syam’un: Ulama Pejuang, Pemimpin Rakyat, dan Pahlawan Multi Dimensi

Oleh: Ustadz Fawali Barkil, S.Sos

SETIAP tahun, bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan sebagai bentuk penghormatan terhadap para pejuang kemerdekaan. Namun, sejatinya, peringatan itu bukan sekadar rutinitas tahunan. Lebih dari itu, ia adalah momentum untuk merenungkan kembali semangat heroisme dan nilai pengorbanan yang diwariskan oleh para pahlawan bangsa.

Di tengah zaman yang serba materialistis dan individualistis, ideologi heroisme—terutama yang berpadu dengan nilai-nilai religius—menjadi penting untuk kembali dihidupkan. Semangat itulah yang menjadi ruh perjuangan banyak tokoh bangsa, termasuk Brigjen Anumerta KH. Syam’un, sosok pahlawan nasional asal Banten yang dikenal sebagai figur multi dimensi dan multi talenta.

KH. Syam’un bukan hanya seorang ulama besar, tetapi juga tokoh militer dan politisi yang memainkan peran penting dalam sejarah Banten. Ia merupakan eks Panglima Divisi I TKR Banten–Bogor dengan pangkat Kolonel. Dalam kiprahnya di medan tempur, KH. Syam’un terlibat dalam berbagai operasi militer penting, termasuk penumpasan pemberontakan PKI di Banten tahun 1946 dan perlawanan terhadap agresi militer Belanda (NICA) I dan II. Beliau gugur saat memimpin perang gerilya pada tahun 1949.

Selain di dunia militer, KH. Syam’un juga tercatat sebagai Bupati Serang pertama pasca-kemerdekaan. Dalam perannya sebagai kepala daerah, ia mengirim salah satu murid terbaiknya, KH. Abdul Fatah Hasan—alumni Universitas Al-Azhar Kairo—untuk mewakili Banten di sidang BPUPKI, bersama para pendiri bangsa lainnya dalam merumuskan dasar negara Pancasila dan UUD 1945.

Sayangnya, perjuangan KH. Abdul Fatah Hasan terhenti tragis. Ia diculik oleh tentara Belanda saat melakukan pembinaan masyarakat di Cilegon, dan hingga kini keberadaannya tak pernah diketahui. Atas jasanya, pemerintah menganugerahkan Bintang Mahaputera Utama pada tahun 2000 dan mengabadikan namanya sebagai nama jalan utama di Kota Serang.

Tak hanya di bidang militer dan politik, KH. Syam’un juga dikenal sebagai pelopor pemberdayaan ekonomi rakyat. Pada tahun 1927, ia mendirikan organisasi PEDATI (Persatuan Pedagang Tjilegon) serta koperasi rakyat bernama Coeperatie Boemi Poetera.

Melalui dua lembaga itu, ia mendorong kemandirian ekonomi masyarakat di tengah tekanan kolonialisme.

Ia juga menggagas organisasi kepemudaan Jami’iyatul Nahdlotil Subbanil Muslimin, wadah yang menumbuhkan kesadaran kebangsaan dan keagamaan pemuda Banten pada masa pra-kemerdekaan.

Sebagai ulama pendidik, KH. Syam’un mendirikan Pesantren Al-Khairiyah Citangkil pada tahun 1925. Dari pesantren inilah lahir banyak tokoh pejuang dan pendakwah yang melanjutkan perjuangannya di masa kemerdekaan.

Ia juga aktif menulis karya-karya ilmiah keislaman, di antaranya:

1. Al-Jami’ah fi Aqoidil Muslimin wal Muslimah (1930)

2. Risalah ‘Aqidatul Athfal (1933)

3. Mujmalush-Shirotil Muhammadiyyah (1939)

Gaya kepemimpinan KH. Syam’un dikenal sebagai Islam Gerakan—sebuah pandangan keagamaan yang moderat namun berorientasi pada perubahan sosial. Ia memadukan kekuatan spiritual, kecerdasan politik, dan ketegasan militer untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa.

Semangat juang KH. Syam’un bukan muncul tiba-tiba. Ia mewarisi darah pejuang dari ayahnya, KH. Alwiyan, dan kakeknya, KH. Wasid, yang dikenal sebagai pemimpin Perang Geger Cilegon 1888 melawan penjajah Belanda.

Atas jasanya, KH. Wasid juga dianugerahi Bintang Mahaputera Utama pada tahun 2000 dan kini masuk dalam nominasi calon Pahlawan Nasional 2025.

Lebih jauh ke atas, buyut KH. Syam’un juga dikenal sebagai tokoh Perang Gudang Batu tahun 1850, bersama KH. Wakhiya memimpin perlawanan rakyat di Waringinkurung, Serang.

Atas segala kiprahnya di bidang agama, militer, politik, dan sosial, pemerintah Indonesia menganugerahkan kepada beliau gelar Pahlawan Nasional pada tahun 2018, melengkapi penghargaan Bintang Mahaputera Utama yang telah diterimanya pada tahun 2000.

KH. Syam’un dikenang bukan hanya sebagai pahlawan, tetapi juga simbol sinergi antara keulamaan dan kebangsaan—figur yang mampu menyatukan semangat spiritual dan nasionalisme.

Peringatan Hari Pahlawan seharusnya menjadi saat bagi generasi bangsa untuk melakukan muhasabah, bukan sekadar mengenang nama besar para pejuang. Nilai-nilai yang ditinggalkan oleh KH. Syam’un—keikhlasan, pengorbanan, dan pengabdian tanpa pamrih—menjadi cermin untuk mengisi kemerdekaan dengan pembangunan yang beretika dan berkeadaban.

Seperti perjuangan beliau, kemerdekaan bukan hadiah, tetapi hasil dari cinta dan pengorbanan terhadap tanah air.

 

Serang, 8 November 2025