CILEGON, WILIP.ID – Keterlambatan pencairan honor daerah bagi guru Madrasah Diniyah Takmaliyah di Kota Cilegon kembali menuai sorotan. Kali ini, kritik tajam datang dari Ketua DPD Al Khairiyah Kota Cilegon, Ustaz Hambasi, yang mengaku kecewa terhadap polemik berkepanjangan yang hingga kini belum juga menemukan kejelasan.
Hambasi menilai, para guru madrasah saat ini hanya bisa menunggu tanpa kepastian. Padahal, honor tersebut sangat dinantikan, terlebih menjelang Hari Raya Idulfitri.
“Guru madrasah sangat berharap honor daerah ini segera cair. Kami berharap di detik-detik terakhir menjelang akhir puasa ini bisa keluar. Syukur-syukur kalau besok sudah dicairkan,” ujar Hambasi kepada Wilip.id, Senin (16/3/2026).
Menurutnya, kondisi yang terjadi saat ini membuat para guru madrasah kebingungan. Pasalnya, informasi yang beredar terkesan saling lempar tanggung jawab antara pihak terkait.
Ia menyebut, persoalan honor madrasah seolah menjadi “bola panas” yang terus dioper dari satu instansi ke instansi lain.
“Dari Pemkot katanya urusan Kemenag, dari Kemenag juga ada penjelasan lain. Jadi masyarakat dan guru madrasah bingung. Honor ini seperti bola yang dioper-oper,” tegasnya.
Hambasi pun meminta Pemerintah Kota Cilegon, termasuk Wali Kota, Wakil Wali Kota, serta instansi terkait seperti Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) dan Kementerian Agama, untuk segera memberikan kejelasan sekaligus solusi konkret.
Menurutnya, pemerintah harus lebih serius memperhatikan kesejahteraan guru madrasah yang selama ini memiliki peran penting dalam membangun karakter dan akhlak generasi muda di Kota Cilegon.
“Kami mohon kepada pemerintah daerah dan semua pihak terkait agar persoalan ini segera diselesaikan. Jangan sampai para guru madrasah terus menunggu tanpa kepastian,” ujarnya.
Lebih jauh, Hambasi juga menyinggung janji peningkatan honor yang sempat disampaikan saat momentum politik sebelumnya. Ia menilai, janji tersebut seharusnya menjadi komitmen yang diwujudkan secara nyata.
“Kalau memang ada janji peningkatan honor, itu harus ditepati. Janji itu kan keluar dari ucapan sendiri. Jangan sampai guru madrasah justru merasa diabaikan,” katanya.
Hambasi menegaskan, pihaknya tidak mempersoalkan besaran honor yang diterima. Namun yang terpenting adalah komitmen dan kepastian dari pemerintah terhadap para guru madrasah yang telah lama mengabdi.
Ia mengingatkan bahwa madrasah memiliki sejarah panjang dalam perjuangan bangsa. Bahkan, lembaga pendidikan keagamaan ini telah berdiri jauh sebelum Indonesia merdeka.
“Madrasah ini berdiri sejak sebelum kemerdekaan dan ikut berjuang melawan penjajah. Jangan sampai sekarang justru guru madrasah seperti merasa dijajah di negeri sendiri,” pungkasnya.
Di Kota Cilegon sendiri, ribuan guru Madrasah Diniyah Takmaliyah selama ini menjadi garda terdepan dalam pendidikan keagamaan, membimbing anak-anak dan santri untuk membangun akhlakul karimah di kota yang dikenal sebagai kota santri dan kota seribu masjid.
(Has/Red*)















